Diarsipkan di bawah: Sistem
Oleh : Rony Mohamad Rizal
Program Doktor Ilmu Sosial
Konsentrasi Kebijakan Publik
Pascasarjana Universitas Pasundan Bandung 2008
PENDAHULUAN
Dalam tulisan ini penulis kemukakan ikhwal pendekatan sistem sebagai alat dalam mengoperasikan kebijakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, suatu alat yang pada hakekatnya bukan sesuatu yang baru. Pendekatan-pendekatan terpadu tidak lain adalah pendekatan sistem, namun di dalam pelaksanaannya ada jalur-jalur penghubung yang lepas dari pemeran kebijakan. Keadaan seperti ini dapat menyebabkan penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan pada suatu komponen yang dilaksanakan tidak dapat segera diketahui dampaknya terhadap komponen-komponen yang lain.
Jadi kalau kita lihat, dapat dikatakan secara umum bahwa pemeran kebijakan pada suatu komponen memerlukan indikator-indikator dari para pemeran kebijakan yang lain dalam waktu yang relatif cepat untuk dapat melakukan perubahan-perubahan kebijakan jangka pendek kalau perlu perubahan atau kebijakan jangka panjang jika ternyata terdapat penyimpangan yang mendasar.
Seperti kita ketahui bersama bahwa penanaman modal (investasi) sangat vital bagi pertumbuhan dan percepatan pembangunan ekonomi di suatu negara. Modal tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk memulihkan perekonomian, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan. Demikian juga di Indonesia. Paska kebijakan desentralisasi tahun 1999, banyak sekali pemerintah daerah yang bereksperiman dan berinovasi dengan mengembangkan berbagai pola pelayanan perijinan dan investasi. Namun demikian, terdapat banyak kendala untuk dapat menggali modal dari para penanam modal (investor). Secara umum kendala tersebut dapat diinventarisir antara lain:
1. Regulasi pemerintah yang tidak konsisten dan akomodatif sehingga cenderung membingungkan penanam modal dan calon penanam modal;
2. Pelayanan perizinan yang tidak bisa diprediksi, lambat, dan tidak transparan.
3. Kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang belum memadai dan belum bisa diprediksi;
4. Belum adanya jaminan terhadap kepastian hukum terhadap kontrak-kontrak yang telah disepakati pengusaha, terutama yang terkait dengan perusahaan asing;
5. Peranan perbankan nasional dalam menyalurkan kredit ke sektor riil belum berfungsi secara normal;
6. Pelaksanaan otonomi daerah belum memiliki arah yang jelas dan cenderung menciptakan pemerintahan baru di tingkat yang lebih rendah.
Dari kendala-kendala di atas, pelayanan perizinan merupakan kendala yang paling kasat mata. Studi yang pernah dilakukan Bank Dunia menunjukkan Birokrasi Indonesia sangat rumit yang dimulai dari prosedur untuk memulai penanaman modal baru, pengurusan perizinan, pertanahan, ekspor-impor, sampai dengan pengurusan pembayaran pajak. Untuk memulai suatu usaha di Indonesia membutuhkan 12 prosedur yang memakan waktu 97 hari dengan biaya 86,7% dari pendapatan per kapita penduduk Indonesia. Dibandingkan negara-negara tetangga, Thailand misalnya, hanya butuh 8 prosedur yang memakan waktu hanya 33 hari dan biaya hanya 5,8% dari pendapatan per kapita. Sedangkan Malaysia hanya membutuhkan sembilan prosedur, 30 hari dan 19,7% pendapatan per kapita untuk memulai usaha. Birokrasi dengan prosedur dan dokumen yang rumit ini pada akhirnya berakibat pada waktu yang terbuang dan biaya yang besar.
Untungnya, Pemerintah tampaknya telah melakukan langkah-langkah untuk mengatasi kendala itu dengan membuat kebijakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu/PTSP atau One Stop Service (OSS) sebagai salah satu usaha menarik penanam modal menanamkan modalnya di Indonesia. Kajian ini dimaksudkan untuk mendapatkan bentuk kebijakan yang ideal dalam membangun Pelayanan Terpadu Satu Pintu tersebut menggunakan metode pendekatan sistem dengan: (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Teknologi Informasi
Dalam tulisan ini saya akan berbagi pengalaman, mengenai tidak terkoneksinya WIFI di laptop saya dengan HOTSPOT yang ada di kantor. Dalam Box Wireless Network Connection muncul tulisan bahwa kita tidak dapat terkoneksi dan mengharuskan kita melihat cara penanggulangan masalah di microsoft.com.
Setelah mencari kesana kemari (browsing) akhirnya saya mendapatkan pemecahan masalahnya di
http://www.ezlan.net/wzc.html
dengan langkah-langkah pemecahan sebagai berikut :
Semoga bermanfaat !
Diarsipkan di bawah: Kewirausahaan
This section explains the strategy, structures and processes you will use to sell your product to customers, and intermediaries, and how you will physically deliver the product to them.
· State to whom you are you selling the products, state specific segments of the market
· Explain how are you going to make the product available to customers sell the product to each of these segments – how are you going to make it convenient and accessible for your customers to buy your products
Diarsipkan di bawah: Finansial
Untuk menjadi kaya, kita harus selalu ingat prinsip dasar
“Menghabiskan lebih sedikit dari yang kita dapatkan” atau “Hidup
dibawah kemampuan”. Dengan melaksanakan prinsip ini, maka setiap
bulannya kita mengakumulasikan harta, yang dalam jangka panjangnya
akan membawa kita menuju kaya.
(lagi…)
Diarsipkan di bawah: Olahraga
I. PENDAHULUAN
Pada semua cabang olahraga seorang pelatih sangat dibutuhkan oleh setiap atlitnya, untuk membimbing mereka meraih prestasi yang tinggi. Bila seorang atlit tidak mendapatkan bimbingan dan pengawasan dari pelatih, para atlit akan mendapatkan kesulitan.
Untuk mencapai prestasi yang tinggi dan gemilang, seorang atlet harus mampu menyerap materi latihan yang diberikan oleh seorang pelatih dan pelatih pun harus mengetahui materi latihan apa yang cocok untuk diberikan kepada atlet tersebut. Dari mulai teknik, taktik, kondisi fisik, maupun latihan mental sesuai dengan cabang olahraga yang dilatihnya. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Agama
Suatu ketika, seorang utusan Quraisy bernama Utbah bin Rabi’ah datang menemui Muhammad SAW “Anakku, katanya, “Seperti kamu ketahui, dari segi keturunan engkau mempunyai tempat di antara kami. Engkau telah membawa soal besar ke tengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka cerai berai karenanya. Sekarang dengarkanlah, kami akan menawarkan beberapa hal, kalau kalau sebagian dapat kau terima.
- Kalau dalam hal ini yang kamu inginkan adalah harta, kami siap mengumpulkan harta kami, sehingga hartamu akan menjadi yang terbanyak di antara kami.
- Kalau engkau menginginkan pangkat, kami akan angkat engkau di atas kami semua. Kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa ada persetujuanmu. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Kewirausahaan
Tidak ada sekolah untuk mendidik orang menjadi wirausahawan. Di sekolah bisnis sekalipun, tidak pernah diajarkan orang menjadi pengusaha. Kalau soal bagaimana mengelola bisnis yang sudah ada, barulah sekolah bisnis sedikit berperan. Sebabnya adalah berbisnis itu soal keputusan, niat, keberanian, berhitung dengan cermat dan berani mengambil keputusan serta penuh perhitungan dalam menghadapi segala peluang. Menjadi wirausahawan itu mudah, tetapi yang sulit itu menjadi wirausahawan baru. (lagi…)
